Kajian naskah-naskah kuno mulai menggeliat di Sumatera Barat era kini. Penemuan-penemuan baru skriptorium—tempat naskah disimpan—di berbagai surau turut menggairahkan kajian yang tak hanya melibatkan nama-nama besar peneliti naskah seperti M. Yusuf, Zuriati, Oman Fathurahman, bahkan di kalangan mahasiswa.

Setidaknya ada dua hal penting seiring kajian dan penemuan baru naskah-naskah kuno tersebut. Pertama, tradisi penulisan dan penyalinan naskah ini dilakukan dalam rangka membumikan khasanah keilmuan yang terkait dengan ajaran agama Islam dan adat istiadat. Kedua, menjadi bukti sahih atas islamisasi di negeri ini. Ini terlihat ketika naskah-naskah tersebut banyak menggunakan tulisan Arab dalam bahasa Arab, dan menggunakan tulisan Arab-Melayu ejaan Bahasa Melayu. Penggunaan penulisan itu disebut dengan tradisi manuskrip.

Tak bisa dipungkiri bahwa perhatian masyarakat awam sangat kurang terhadap keberadaan manuskrip-manuskrip tersebut. Padahal manuskrip-manuskrip tersebut merupakan salah satu aset intelektual yang sangat berharga. Perhatian terhadap kekayaan khasanah intelektual dan budaya Minangkabau itu, ternyata, lebih banyak dilakukan oleh masyarakat di luar Minangkabau, seperti Belanda, Inggris, Malaysia, dan negara-negara lainnya.

Selain itu, naskah-naskah yang berada di tangan masyarakat pun tidak mendapatkan perawatan yang baik. Banyak naskah ditemukan sudah dalam keadaan rusak, bercerai-berai dari kurasnya dan bolong-bolong karena dimakan rayap, terutama pada naskah-naskah yang terdapat di surau-surau yang kurang atau belum diketahui oleh para filolog. Salah satunya naskah-naskah di surau Syech Abdurrahman Bintungan Tinggi, dan yang paling penting dari koleksi di surau ini adalah Naskah “Fiqh Perempuan”. Naskah ini merupakan satu-satunya naskah fiqh yang membahas tentang perempuan yang ditemukan di kabupaten Padang Pariaman. Selain itu belum ada rasanya ditemukan naskah fiqh laki-laki.

Naskah “Fiqh Perempuan” merupakan salah satu dari banyak naskah keagamaan yang belum mendapat perhatian dari para filolog karena baru saja ditemukan. Naskah Fiqh Perempuan ini sudah mengalami kerusakan-kerusakan karena dimakan rayap mengingat umurnya yang hampir seratus tahun lebih.

Naskah “Fiqh Perempuan” di Surau Bintuangan Tinggi menggunakan bahasa Arab-Melayu, dengan alihan halaman, mulai halaman 2 sampai dengan 306, halaman selanjutnya tanpa penomoran. Alas naskah memakai kertas Eropa. Menggunakan Watermark CRESCENT. Terdiri dari 37 kuras; 1 kuras = 10 lembar. Dua kuras terakhir sudah hancur dimakan rayap sehingga tidak bisa dibaca lagi.
***
Melalui pengalihbahasaan yang telah dilakukan terhadap naskah Fiqh Perempuan Syech Abdurrahman Bintuangan Tinggi dapat diketahui bahwa kitab ini lebih banyak memfokuskan terhadap persoalan ibadah haji bagi perempuan. Tampaknya bagi Syech Abdurrahman, penulisan kitab khusus tentang fiqh perempuan ini diperlukan ketika tingginya keinginan dan antusiasme para perempuan Pariaman untuk menunaikan rukun Islam kelima ke Makkah.

Sulit untuk menelusuri dasar-dasar pemikiran dan tahun lahirnya naskah “fiqh perempuan” ini. Dalam kitab “fiqh perempuan” ini pun tidak dapat ditemukan kapan naskah ini ditulis atau diakhiri sebagaimana sering ditemukan dalam naskah-naskah klasik Minangkabau lainnya, misalnya, Syair Syech Sunur. Namun dari sejumlah data-data yang ditemukan di lapangan, kemungkinan naskah ini ditulis ketika istri Syech Abdurrahman, Siti Malai menunaikan haji ke Makkah. Tampaknya Syech Abdurrahman Bintuangan Tinggi berusaha memberikan bimbingan praktis kepada sang istri.

Pada tahun 1337 H/1917 M, Syech Abdurrahman Bintuangan Tinggi menunaikan haji terakhirnya bersama istri tercinta Siti Malai dan anak perempuannya Ummy Asiah. Sebelum keberangkatan haji beliau naskah fiqh perempuan ini sudah terlebih dahulu diajarkan beliau kepada istri dan anak perempuannya. Selain itu, karena Syech Abdurrahman juga bertugas sebagai kepala jamaah haji di kawasan tersebut, naskah ini juga menjadi pedoman bagi perempuan-perempuan Minangkabau daerah Pesisir Pantai Barat yang ingin menunaikan ibadah haji.
***
Naskah-naskah dan sejarah ulama itu seperti Syech Abdurrahman mestinya bisa menjadi pedoman dalam pembuatan dan penerapan peraturan-peraturan khususnya peraturan daerah bidang syariah di Sumatera Barat saat ini. Peraturan daerah ini sampai sekarang masih meninggalkan banyak masalah karena pemerintah mewajibkan semua siswa memakai pakaian muslim termasuk siswa non muslim. Jika sebelum peraturan daerah ini ditetapkan pemerintah mengikutsertakan ulama mungkin hal ini tidak akan terjadi dan menimbulkan masalah di kemudian hari, sebagaimana timbulnya pro-kontra terhadap islamisasi kebijakan pemerintah atau negara. Wallahu’alam.

Rumah semestinya dapat memberikan ketenangan bagi setiap anggota keluarga. Di rumahlah anak-anak merasakan nyaman. Merasakan belaian orang tua. Pendidikan pertamapun didapatkan di rumah.

Sekolah dan institusi-institusi pendidikan lainnya diharapkan bisa menyaimbangi rumah. Di sekolah anak-anak berada di bawah kendali guru. Secara spiritual dan emosional. Pendidikan yang baik di sekolah, menggiring siswa menjadi generasi cerdas.

Cerdas tidak dilihat dari angka-angka. Dari rengking yang didapat di setiap semesternya. Namun, cerdas seseorang dapat dilihat dari semampu apa dia menyelesaikan sebuah permasalahan. Sebuah perguruan tinggi tidak hanya menjadikan dirinya tempat berlindung seperti rumah. Berlindung dari “dari pada tidak ada kerja”.

Dulu saya merasa mahasiswi yang cukup beruntung karena setiap menerima hasil study nilai saya yang tinggi. Paling tidak nomor dua tinggi di angkatan saya. Sayangnya rasa beruntung itu tidak diiringi dengan rasa bangga. Saya tidak pernah merasa bangga dengan hasil-hasil tersebut. Saya merasa tidak mendapatkan apapun selain nilai tinggi. Itu saja.

Tahun pertama kuliah, sangat menyenangkan. Walaupun kedatangan saya seangkatan disambut dengan hardikan, bentakan dan tidak jarang makian. Kata orang-orang itu lumrah. Sudah tradisi yang harus dijaga dan dirayaka setiap tahun ajaran baru. Bahkan diulang lagi dengan perlakukan yang lebih extrim pada malam terakhir pada acara kemah bakti (KBM) atau latihan alam dasar (LAD). Dan banyak lagi nama kegiatan yang melegalkan dan “mensucikan” makian senior kepada junior. Dan itu mereka nikmati bersama-sama.

Ternyata perasaan tidak pernah stabil. Seiring waktu berjalan, cinta di hati saya mulai pudar. Hal ini terjadi karena kerinduan pada dosen-dosen pengampu mata kuliah tidak terobati setiap jadwal-jadwal yang telah ada. Cinta berganti bosan.

Saya mencari pelarian. Mulai mencari sahabat-sahabat di luar jurusan. Di sini saya merakan betul kalau nilai tinggi saya belum apa-apa. Suatu ketika saya mengikuti program penelitian yang didanai DIKTI. Dari setiap pertemuan dengan anggota penelitian dari fakultas dan jurusan lain saya baru tahu kalau selama ini saya sudah terjebak dengan nilai angka-angka bukan nilai kearifan dan kedewasaan.

Menyesal, tentu tidak. Walau banyak hal yang pantas untuk disesalkan. Semester tujuh saya tidak ada kuliah lagi. Semua beban kuliah telah saya tamatkan. Namun, saya belum bisa memulai menulis tugas akhir.

Beberapa kawan seangkatan juga ada yang tidak ada beban kuliah lagi. Merekapun tidak mengerjakan tugas akhir (skripsi). Alasannya “belum ada judul”. Apa benar seperti itu? Entahlah.

Semester berikutnya saya dan beberapa kawan lain baru mengajukan proposal. Tiga hari, lima hari, seminggu dua minggu kami menanti surat tugas pembimbing, tidak juga keluar. Berkat sabar, menjelang tiga minggu barulah kami tahu pembimbing proposal kami.

Bimbingan proposal siap, kami mengajukan untuk ujian. Seminggu, dua minggu tiga minggu, alhamdulillah akhrirnya keluar juga jadwal ujian pada awal minggu ke empat. Semua persyaratannya kami penuhi. Terutama mengkopy proposal sebanyak dosen di jurusan.

Ujian selesai, kami melakukan perbaikan mana yang harus diperbaiki sesuai usulan semua dosen yang datang dan menguji. Setelah itu, sesuai peraturan yang berlaku dan dilakukan di jurusan, kami mengajukan permohonan pembimbing skripsi melalui proposal yang sudah diperbaiki sebelumnya.

Menunggu surat tugas pembimbing skripsi cukup empat minggu saja. beberapa kawan ada yang dituntut lebih sabar, bisa saja menunggu dua bulan. Dan keluarga di rumah mulai bertanya-tanya. Kapan kamu tamat?. Kalau sudah tamat. Kapan kamu kerja? Kalu sudah kerja. Kapan kamu kawin?.

Bagaiman mau menjelaskan kepada mereka, kalau kami di sambut dengan makian senior dan dibesarkan dengan kesantaian dan dilepas dengan “kebiaran”. Sementara masa depan yang akan dijalani penuh dengan etika, keseriusan dan professional.

alhuwalam

unandSekarang saya sedang bermain internet di depan perpustakaan A.A. Navis Fakutas Sastra Unand. Pada meja di depan saya duduk beberapa orang mahasiswa perempuan. Tak seorangpn laki-laki, maklum sekarang hari jum’at dan laki-laki sedang mendengar khotbah.

Tidak lama kemudian lewatlah seorang dosen dan beliau bergabung dengan mahasiswa tersebut. Mereka bercerita tentang banyak hal.Tidak lama berselang, gelak tawa mereka semakin menjadi-jadi. Senang juga melihatnya.

Saat melihat sedikit kekanan ada tiga orang mahasiswa. Dua diantra mereka sibuk menulis. Entah menulis apa. Satu mahasiswa lagi sangat serius dengan leptopnya. Sudah setahun ini mahasiswa mulai banyak membawa leptop ke kampus. Unand telah membuat jaringan internet gratis. Jadi siapapun yang akan ngenet bebas biaya asal ada wireless.

Dibandingkan dengan Univesitas terkemuka lainnya di Indonesia, Unand telat jauh dalam menggratiskan pemakaian internet free wireless. Namun itu bukan alasan bagi mahasiswanya untuk memulai dan melanjutkan semangat keilmuan.

danau-maninjauDanau Maninjau merupakan salah satu objek wisata yang terdapat di Sumatra Barat. Danau ini tepatnya di Kabupaten Agam dengan jarak 105 km dari kota Padang. Keindahan danau Maninjau yang dapat kita nikamati saat ini terjadi karena dendam si Malintang terhadap si Sani. Kemudian, kisah ini disebut dengan legenda ”Bujang sambilan”.

Legenda Bujang Sambilan ini pada awalnya berkembang dalam bentuk sastra lisan. Berkembang sebelum masuknya agama Islam, disaat masyarakat pemiliknya masih percaya kepada dewa yang berada di Gunung Tinjau.

Legenda Bujang Sambilan bercerita tentang Dt. Limbatang, anaknya si Giran dan sembilan kemenakannya. Yaitu: Malintang, Palimo Bayua, Pandan Mudo, Pandeka Rayo, Barasok, Balok, Galapuang, Gasang, dan Puti Ra Sani, yang bertema Adat Alam Minangkabau.

Mamak tidak lagi menjadi sosok yang disegani dan didengar kata-katanya sebagaimana mestinya. Salah satu penyebabnya adalah karena kemenakan sudah basutan di mato, barajo di hati (bersutan di mata, beraja ke hati) dan hasut-fitnah. Legenda ini terjadi dan masih hidup di daerah Agam Baruah, 36 km sebelah barat kota Bukittinggi.

Alkisah, bujang Sambilan—sembilan bersaudara—merupakan anak yatim piatu. Si Sani (si Bungsu) karena masih kecil ketika ditinggal orang tuanya, maka ia dibesarkan oleh mamaknya. Ketika dewasa ia menjalin cinta dengan anak mamaknya yang bernama Giran.

Hubungan percintaan ini mendapat penolakan dari saudara lak-laki si Sani terutama dari Malintang. Usut punya usut penolakan itu terjadi karena Malintang memiliki dendam kepada Giran. Dendam itu terjadi karena si Giran Pernah mengalahkannya di arena silat sampai kakinya patah.

Semenjak mengetahui hubungan si Giran dan adiknya si Sani si Malintang berusaha menyatukan suara dengan saudaranya yang lain. Pada akhirnya semua saudara si Sani tidak mengizinkannya berhubungan dengan si Giran. Mereka berusaha memisahkannya.

Pada suatu hari ketika si Giran bertemu dengan si Sani di Pancuran, paha si Sani digigit lintah. Si Giran berusaha menolongnya. Pada saat itulah saudara-saudara si Sani melihat. Mereka memfitnah si Giran dan si Sani telah berbuat kotor. Buktinya banyak darah yang mengalir dari paha si Sani.

Agar dewa gunung Tinjau yang amat ditakuti oleh penduduk tidak marah, maka si Sani harus dilemparkan ke kawahnya. Itu kesepakatan Malintang dan saudara-saudaranya. Dt. Limbatang, sebagai mamak sudah berusaha mencegahnya namun ditentang mereka. Si Sani tetap dibawanya ke gunung Tinjau. Si Sani tidak menolak. Bukan karena ia mengakui salah, namun itu sebagai bentuk kepatuhannya kepada saudara-saudaranya.

Ketika akan terjun ke kawah gunung, si Giran datang. Ia ingin meloncat berdua dengan kekasihnya. Sebelum meloncat si Sani berkata kepada saudara-saudaranya, bersumpah demi alam, demi penghuni genuang Tinjau. ”Setelah kami meloncat nanti, kalau tidak terjadi apa-apa berarti kami memang salah, tapi kalau gunung ini berubah menjadi lautan diiringi oleh petir dan badai itu tandanya kami tidak salah.”

Seiring dengan terjunnya si Sani dan si Giran ke kawah gunung Tinjau datanglah guruh, petir dan badai besar. danau-dari-gunung-tinjauGunung Tinjau berubah menjadi danau. Sembilan laki-laki bersaudara tadi dihukum oleh dewa penghuni gunung Tinjau, berubah menjadi ikan, mereka kemudian disebut dengan Bujang Sambilan. Penghuni danau Maninjau. Dua tanjung yang menjulur ke danau, merupakan lambang kegagalan cinta antara si Sani dan si Giran.

Selanjutnya, nama-nama dari tokoh ini diabadikan dengan nama-nama daerah di Tanjung Raya. Puti Ri Sani menjadi Tanjuang Sani, Dt. Limbatang menjadi Sungai Batang—tempat kelahiran Buya Hamka). Palimo Bayua menjadi Bayua. Malintang menjadi Koto Malintang, di daerah Anam Koto. Pandan, si Barasok, Galapuang adalah nama-nama kampung di pantai barat danau Maninjau. Balok dan Gasang menjadi nama jorong di kenagarian Maninjau pasar. Sedangkan nama Tanjuang Raya berasal dari nama pandeka rayo, guru silatnya si Malintang.

Sampai sekarang masyarakat Agam Baruah/Tanjuang Raya percaya bahwa danau maninjau bapanghuni (memiliki penghuni gaib), yaitu sembilan arwah Bujang Sambilan yang menjelma berupa ikan.

Setiap tahunnya Bujang Sambilan akan mengambil korban, berupa manusia. Pada hari itu akan datang badai besar. Tujuannya adalah membersihkan danau dari kotoran-kotoran dan dosa masyarakatnya.

Selain itu, pada waktu tertentu belerang naik meracun air maka ikan-ikan menjadi mabuk dan mati, orang novi-yuliamenyebutnya dengan tubo. Konon, itulah Bujang Sambilan menjelajahi danau. Panjangnya kira-kira lima depa, punggunya biru dan dadanya merah. Radai tagak kuniang bak ameh, sunguik tapasang bamego-mego, cahayonyo bendang dalam aia. Artinya, barang siapa yang mengganggu maka ia akan mati tagak (mati berdiri) atau akan raib dibawa urang aluih (orang halus).

Ruang-Ruang

Yang ngklik

  • 318 hits

Top Clicks

  • None

Kalender

February 2010
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Lokasi Pengunjung