Pasar Tanah Kongsi yang berada di Pecinaan Padang (Pondok) masih terlihat hiruk walau hari menjelang sore. Beberapa toko dan warung tampak masih terbuka. Menjajakan beragam makanan. Ada yang menjual lontong sayur, nasi ramas, kelontong, dan lain-lain. Lepau-lepau itu—biasanya yang menjual makanan—buka sampai malam. Sekelompok anak muda turunan Nias, Minang, dan Cina tampak bercerita ria. Tidak terlihat ada perbedaan etnis diantara mereka.

Bangunan di pasar ini pun memperlihatkan keragaman budaya yang hidup di sini. Salah satunya ada bangunan bergonjong, menggambarkan bangunan Minang. Sementara di depan beberapa toko tampak cerah oleh altar persembahyangan etnis Tionghoa.

Di pasar yang buka dari pagi sampai siang ini dapat kita lihat wajah-wajah beragam anak bangsa. Pasar ini memang menjadi titik komunikasi berbagai etnis yang ada di kota Padang. Menjadi ruang semai peradaban.

Bertemu

Selain komunitas etnis Nias yang menjadi peneruka, etnis Tionghoa telah menjadikan Padang sebagai kota penting mereka sejak dua abad lalu. Oleh perkembangan kota Padang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan beberapa pedagang Tionghoa mendirikan pasar di Pecinaan dekat Klenteng. Pasar ini didirikan di atas tanah milik kapten Tionghoa, Lie Maa Saay, dan dikelola oleh Poa Leng. Pasar ini kemudian dikenal dengan Pasar Tanah Kongsi.

Walaupun pasar Tanah Kongsi berdekatan dengan Pasar Mudik yang sebelumnya sudah didirikan oleh pedagang Minangkabau, namun dalam waktu yang relatif singkat, Pasar Tanah Kongsi berkembang dengan cepat dan mampu menyaingi Pasar Mudik. Pasar ini ramai dikunjungi oleh pedagang dan pembeli dari berbagai tempat, baik oleh pedagang pribumi maupun pedagang Tionghoa. (Adrial: 1994)

Kini pasar Tanah Kongsi tidak lagi seramai dulu. Pasar bersejarah ini kalah oleh terjangan arus kapitalisasi pasar-pasar moderen. Dua puluh tahun terakhir, plaza, mall, dan supermarket menjamur di tiap sudut kota. Menenggelamkan pasar Tanah Kongsi dalam kemegapannya.

Meski begitu pasar ini tetap jadi tujuan berjual beli bagi sebagian penduduk Padang yang tinggal seemperan Muara. Orang-orang Palinggam, Pasar Mudiak, Pondok, dan Seberang Palinggam bertemu, saling sapa dan menawar. Tidak ada yang berubah sejak dulu, kecuali keakraban yang tanpa dinding prasangka. Ciloteh Minang terdengar asyik keluar dari mulut-mulut mereka, meski dipolahi dialek khas Tionghoa, Nias, Batak. Bahasa Minang mendapatkan tempatnya sebagai lingua franca, suara temu antar-peradaban.

Perlawanan diam-diam

Dalam kesenyapannya sebagai pasar yang mesti riuh, Pasar Tanah Kongsi seakan menantang kerakusan yang mulai menelan Padang. Diantara perebutan ruang-ruang ekonomis dan politis nan tak kunjung usai diantara keheterogenan warga kota, Pasar Tanah Kongsi seakan men­-cimeeh ikatan-ikatan kebersamaan yang mulai longgar diantara “kita”.

Kita telah terlupa. Terlalu asik bermain tipu dan daya, sehingga semakin lama “kita” menjadi ganas, bahkan pada diri sendiri.

Tapi Pasar Tanah Kongsi dan orang-orangnya terus melaju. Tegur sapa. Berbagi cerita. Bertimbang rasa. Telah menggurah kesombongan sisi “individualisme”. Mengganti prasangka dengan uluran tangan keadaban.

Menjadi wilayah perlawanan. Perlawanan terhadap keserakahan kota. Menjadi entriport persemaian keadiluhungan. Sebuah peradaban, meski dalam koridor yang kecil. Mengutip Schumacher (1973) bahwa kecil itu indah, dan (mungkin) lebih beradab. Wallahu’alam. (Dimuat di Singgalang, 5 Desember 2010)