Kota Padangpanjang dikenal sebagai kota Serambi Mekah, karena salah satu kota ini pusat pendidikan Islam seperti Dinniyah Putri, Sumatera Thawalib dan keberadaan Masjid Asasi. Masjid yang didirikan di tanah wakaf Datuak Kayo ini telah berumur lebih dari 400 tahun, terletak di Jorong Si Gando, Nagari Gunuang.

Nama Asasi sendiri berarti asal atau pertama. Masjid Asasi mesjid pertama di kenagarian Gunuang yang didirikan atas prakarsa masyarakat sebagai tempat beribadah. Berbeda dengan mesjid lain di Padangpnajang yang diprakarsai oleh ulama-ulama atau syech-syech. Semua bahan untuk membangaun Mesjid ini dikumpulkan masyarakat secara gotong-royong.

Pada awalnya Mesjid ini beratap ijuk. Seiring waktu ada perbaikan dibeberapa bagian seperti mengganti ijuk dengan atap seng. Namun ada bagian yang masih dipertahankan sampai sekarang seperti tonggak atau tiang-tiang, tiga motif ukiran yang berbeda aliran seperti Cina, Hindu, Minang. Karena keunikan dan sejarah Mesjid Asasi ini sekarang dijadikan salah satu ikon dan aset wisata kota Padangpanjang.

 

Tokoh sentral

Pada awalnya Masjid ini disebut dengan Surau Gadang. Salah seorang tokoh sentral yang terkenal dari keberadaan Masjid ini Angku Mohammad Zein. Seorang parewa yang belajar di Surau Haji Miskin. Beliau guru di Masjid ini. Kebesaran nama Angku Mohammad Zein juga atas perannya pada pemberontakan Anti Belasting awal 1908.

Angku Mohammad Zein mengajar setiap malam dengan sistem halaqoh. Dimulai dengan mengajar atau membaca ayat Al Quran, setelah itu Angku Mohammad Zein menjelaskan arti dan maknanya. Selain mengajar ilmu agama Angku Mohammad Zein juga mengajarkan ilmu umum seperti logika dan ilmu bela diri silat.

Menurut sejarahnya, Masjid Asasi tidak hanya digunakan sebagai tempat belajar dan beribadah. Pada tahun 1930-an Mesjid Asasi menjadi tempat berkumpul dan musyawarahnya Buya Palimo Kayo, Inyiak Parabek dan pengikutnya ketika terjadi pertikaian anatara Kaum Muda dan Kaum Tua. Masjid ini juga pernah menjadi pusat kegiatan partai Masyumi.

 

Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah

Minangkabu terkenal dengan adegium adat basyandi syarak, syarak basandi kitabullah. Sebuah pandangan dan pegangan hidup yang berlandaskan Al Qur’an. Masjid Asasi lahir sebagai simbol adegium ini. Adat dan agama berjalan bergandengan.

Dahulunya, dalam melakukan proses transformasi adat, syarak dan seni di Minangkabau lebih banyak dilakukan di surau. Surau sebagai salah satu tempat yang menjadi pusat pendidikan memiliki sistem yang tidak kaku, sehingga di surau tidak hanya mempelajari agama (syarak) dan adat. Lebih dari itu, surau juga merupakan salah satu sarana tempat berkesenian. Para guru di surau tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun ia adalah seorang pendidik.

Generasi muda diarahkan menjadi generasi Islami yang sopan dan tangguh. Dengan berfungsinya surau sebagai salah satu sarana transformasi syarak, adat dan seni di Minangkabau tradisional telah melahirkan generasi Islami, berbudi dan tangguh.

Sayangnya, surau atau Mesjid Asasi ini tinggal bentuk bangunan ibadah semata. Tak banyak kegiatan berkeislaman dan berkeminangkabauan diadakan di Surau Gadang nagari Gunuang selain sebagai objek wisata religius. Tapi dimana pun, sesuatu yang sakral digerusi oleh “proyek” wisata justru mendegradasi nilai-nilai ABSSBK seperti spiritualitas orang Padangpanjang. Wallahu’alam. (Dimuat di Singgalang, 19 Desember 2010)

Advertisement