Kolonialisme tidak saja membawa aras baru peradaban yang asing, sekaligus mewariskan sikap sifat amnesia kearifan lokal yang sejak lama menghidupi nenek moyang kita. Kehadiran ide-ide postkolonial dalam lima dekade belakangan, tidak saja gagal menghadirkan keidentitasan baru, tapi juga menepikan deposit berharga bagaimana hidup dalam alam yang senantiasa bergalau.
Pulau Sumatera, yang disebut frontier sejarah masa depan Indonesia oleh Anthony Reid merupakan salah satu pulau besar yang mengajarkan banyak kearifan pada penghuninya. Topografi daerahnya yang tidak datar, bergunung-gunung dan sebagian besar aktif, serta rawan gempa dari laut dan darat menujukan perjuangan berat untuk hidup. Keliatan menaklukan alam yang dilakukan penghuninya, salah satunya oleh masyarakat Minangkabau, terpancar lewat adegium alam terkembang jadi guru, sekali air gadang sekali tepian berubah.
Catatan Marsden
Dalam buku History of Sumatra (1783) karya William Marsden, orang Minangkabau merupakan kelompok suku yang paling “siap” hidup dengan “keganasan” alam darat dan laut Sumatera.
Marsden menulis daerah-daerah dekat pantai barat Sumatera merupakan area rawa-rawa yang sulit ditinggali. Kedatangan angin puting beliung dari laut dan gempa menjadi tekanan lain dari kemungkinan tempat seperti ini menjadi pemukiman.
Sampai pertengahan abad ke-19 dusun atau perkampungan orang Minang terletak di dekat sungai dan danau. Mereka menjadikan danau dan sungai sebagai tempat mandi dan jalur pengangkutan hasil bumi. Dusun-dusun ini biasanya dibangun di daerah ketinggian.
Bangunan rumah mereka, menurut Marsden, tidak dibangun dengan batu bata atau tanah liat sebagaimana di Jawa, tapi kayu. ”Di daerah panas seperti Sumatera, rumah-rumah harus menjaga udara masuk dengan bebas. Alasan kuat lainnya mengapa rumah-rumah tidak memakai material substantif (batu bata) ialah seringnya terjadi gempa bumi”, jelas Marsden. Rumah-rumah itu dibuat dengan konstruksi panggung, dan menjadi ciri khas lewat rumah gadangnya.
Namun seiring masuknya intervensi Belanda, terutama pasca Paderi (1833), daerah-daerah yang dulunya rawa-rawa, seperti Padang, menjadi pusat aktifitas yang menyebabkan banyak orang Minang turun ke pesisir. Mereka tampaknya takjub pada Belanda yang mampu menyunglap rawa menjadi daerah ramai. Dan meniru gaya bangunan mereka yang tampak kokoh dan kuat memakai batu bata dan kapur, serta disainnya yang unik.
Kekayaan budaya
Gempa besar 1926, 2007, 2009, dan 2010 lalu di Sumatera Barat telah menunjukan kesalahan pilihan orang Minang terhadap tinggalan Belanda. Menjadikan Padang sebagai ibukota, menarik banyak orang darat ke pesisir beraktifitas, dan membangun rumah-rumah batu merupakan warisan kobodohan kolonial. Gempa-gempa besar itu telah menunjukan kegagalan konstruksi kolonial secara ide dan praktis.
Bagi orang Minang klasik, membentuk pola pemukiman dan bangunan tidak dapat dilepaskan dari memahami konsepsi harmonisasi alam. Hal ini disebabkan mereka dikeliling oleh gunung-gunung api aktif seperti Merapi, Tandikat, Gunung Sago, dan Gunung Talang. Selain itu di darat mereka tepat berada di pusat lempeng Semangka yang setiap saat bergerak menghasilkan gempa besar seperti tahun 1926 dan 2007.
Gestur alam tersebut bagi mereka selain mesti dikonstruksi secara arif, tapi juga diwacanakan. Konsepsi/wacana ini mereka namakan kieh, atau kiasan. Kieh tidak berdiri sendiri, tapi tali berpilin dengan kearifan lain secara sosiologis. Tidak heran kemudian, segala perlambang alam menginspirasi mereka beraktifitas, termasuk membangun pemukiman yang aman dan nyaman. Dalam kiehnya orang Minang menyebutkan;
Nan lunak ditanam padi
Nan kareh dibuek ladang
Nan pandam untuak pakuburan
Nan data untuak pamukiman
Nan lereng tanami aua
Nan lorong tanami tabu
Nan gauang katabek ikan
Nan kubangan untuak kabau
Nan rawang ranangan itiak
Kok takuik dilamun ombak jan barumah di tapi lawik
(Yang lunak ditanami padi
Yang keras dijadikan ladang
Yang tanah kuning dijadikan pekuburan
Yang datar untuk perumahan
Yang lereng ditanami bambu
Yang cukam jadi tebat ikan
Yang kubangan untuk kerbau
Yang rawa untuk renangan itik
Bila takut dilamun ombak jangan berumah di tepi laut)
Dalam kieh di atas tampak orang Minang klasik memetakan dimana mereka membuat pemukiman. Rumah-rumah gadang mereka dibuat di tempat yang datar, tidak di lereng gunung atau bukit karena mudah longsor. Begitu juga di daerah bibir pantai yang mudah dilamun ombak. Sementara untuk membuat sawah mereka lakukan di tanah yang lunak, tapi tidak berbentuk kubangan karena itu tempat kerbau bermain. Atau juga menjadikan rawa sebagai daerah hunian karena itik-lah yang bisa bergerombol di sana.
Kieh di atas jelas menjelaskan bagaimana alam diwacanakan menurut alur dan patut. Kesalahan pemanfaatan harmonisasi alam ini tidak saja berdampak secara sosiologis (kekacauan sistem sosial yang mendukung pranata lain), tapi juga menghancurkan konstruksi peradaban yang mereka namakan nagari. Nagari—bisa juga diasosiasikan dengan republik—merangka segala pranata sosial dan wacana-wacana (kieh) tentang alam. Dan nagari pun di Minangkabau klasik diletakan dalam konsep tata ruang yang tegas (Abidin, 2004).
Orang Minang kini hidup dalam konstruksi wacana kolonial yang menipu. Kelabilan gestur bumi Sumatera telah terbaca lama sebelum kedatangan kaum imperialis itu. Gempa besar, angin puting beliung, banjir, dan ancaman-ancaman terhadap kemanusiaan tidak sebatas wacana bagi orang Minang klasik. Mereka hidup dan surfing di atas ancaman peradaban mereka. Alhasil mereka berhasil bertahan lama. Tapi kejeniusan mereka, yang juga tampak ada di masyarakat etnis lain di bentaran pantai barat Sumatera, terhalangi oleh nafsu-nafsu pengejaran kemodernitasan semu. Sebuah pseudo kemodernan yang menjadi ciri utama masyarakat yang masih terbebani oleh praktik kolonial. Sungguh ironi. (Dimuat di Padang Ekspres Minggu, 6/02/11)



Leave a comment
Comments feed for this article